Orang yang bercita-cita tinggi adalah orang yang menganggap teguran
keras baginya lebih lembut daripada sanjungan merdu seorang penjilat
yang berlebih-lebihan.
Setelah menua, Thales ditanya tentang keadaannya. Dia menjawab,
“Beginilah, aku mati secara perlahan-lahan.” Derajat kebaikan seorang
hamba yang paling tinggi adalah yang hatinya dapat terpuaskan oleh
Tuannya Yang Mahabenar sehingga dia tidak membutuhkan perantara antara
dirinya dengan Tuannya itu.
Pythagoras mengundang teman-temannya untuk makan, tetapi ternyata
pembantunya melalaikan perintahnya dan tidak menyiapkan makanan.
Saat teman-temannya datang, dia tidak panik, malah tertawa. Dia
berkata, “Hari ini telah kita dapatkan hal-hal yang lebih mulia daripada
alasan pertemuan kita ini, yaitu menahan kemurkaan, menguasai
kemarahan, menggenggam kesabaran, dan menghiasi diri dengan kelembutan.”
Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan.
Janganlah sekali-sekali engkau mempercayai kasih sayang yang datang
tiba-tiba, karena dia akan meninggalkanmu dengan tiba-tiba juga.
Pilih olehmu menjadi pihak yang kalah tapi benar. Dan janganlah sekali-sekali engkau menjadi pemenang tetapi zalim.
Jangan membanggakan apa yang telah engkau lakukan hari ini, sebab engkau tidak akan tahu apa yang akan diberikan hari esok.
Sokrates dicela karena makan terlalu sedikit, maka dia menjawab,”Aku makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.”
Diceritakan kepada Sokrates, “Penduduk kota menertawaimu.” Dia menjawab, “Semoga tawa mereka itu semakin menyempurnakan diriku.”
Ada seorang raja yang berkata kepada Sokrates,”Apa yang membuatmu
tidak mau menghadapku padahal engkau adalah budakku?” Sokrates
menjawab,”Jika engkau jujur kepada dirimu, engkau pasti mengerti bahwa
aku bukanlah budakmu.”
Raja bertanya, “Bagaimana bisa begitu?”
Sokrates menjawab, “Pernahkah engkau mengetahui bahwa diriku melakukan sesuatu atas dasar dorongan nafsu dan marah?”
Raja menjawab, “Tidak.”
Sokrates bertanya lagi, “Pernahkah engkau begitu?”
Raja itu menjawab, “Pernah.”
Sokrates berkata, “Saya menguasai nafsu dan marah, sementara keduanya menguasaimu. Jadi engkau adalah Budak dari budakku.”
Lalat mencari dan menempel pada tempat-tempat kotor dan menjauhi tempat-tempat yang sehat.
Begitu juga orang-orang yang jahat. Mereka mencari
kejelekan-kejelekan orang lain lalu menyebarkannya dan menyembunyikan
kebaikan-kebaikan orang lain dan tidak mau menyebutkannya.
Lidah yang menyebut Allah tidak pantas dipakai untuk menyebut kata-kata nista.
Malapetaka menimpa binatang selain manusia karena mereka tidak dapat
berbicara, dan menimpa manusia karena mereka terlalu banyak berbicara.
Jika engkau menginginkan kebaikan, segeralah laksanakan sebelum
engkau mampu. Tetapi jika engkau menginginkan kejelekan, segeralah
hardik jiwamu karena telah menginginkannya.
Siapa orang yang paling rendah derajatnya?
Sokrates menjawab, “Orang yang tidak percaya pada siapa pun dan tidak dipercaya oleh siapa pun.”
Dan siapakah orang yang paling nista?
Sokrates menjawab, ”Orang yang dimintai maaf tapi tidak mau memaafkan.”
Jika orang yang tidak tahu tidak berbicara, maka perselisihan pasti hilang.
Kesejahteraan memberikan peringatan, bencana memberikan nasihat.
Mengapa engkau tidak mengkhwatirkan matamu yang terlalu banyak membaca?
Sokrates menjawab, ”Jika aku dapat menyelamatkan mata hatiku, maka aku tidak akan mempedulikan sakit mataku.”
Sokrates melihat seseorang sedang memukuli pembantunya dengan penuh kemarahan.
Sokrates bertanya pada orang itu, ”Mengapa engkau memukulinya?
Orang itu menjawab, ”Dia telah melakukan kesalahan yang sangat besar.”
Sokrates berkata, “Jika semua orang yang telah engkau perlakukan
dengan salah engkau ijinkan untuk menghukum dirimu, pasti engkau akan
segera meninggalkan kezaliman ini.”
Orang yang takjub kepada dirinya sendiri, dia melihat di dalam
dirinya sesuatu yang lebih indah dari kenyataannya, walaupun sebenarnya
dia sangat lemah lalu dia bergembira karenanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar